Ketua DPC PDIP Tangsel Minta Elit Demokrat Gak Usah Campur Tangan Urusan Gibran, Urus Saja AHY !!

Wanto Sugito, Ketua DPC PDIP Kota Tangsel.

TANGERANGRAYA.NET Perilaku elit Partai Demokrat mengomentari dapur PDI Perjuangan soal penetapan Gibran dalam pilkada Solo ditanggapi sinis Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan.

“Kami heran dengan sejumlah pernyataan elit Demokrat yang muncul di media maupun medsos. Kenapa petinggi Demokrat harus repot mempertanyakan soal penetapan Gibran Rakabuming sebagai calon Walikota Solo yang diusung PDI Perjuangan,” ujar Wanto Sugito, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan saat dihubungi, Senin (20/7).

Diberitakan sebelumnya, Wakil Sekjen Partai Demokrat, Jansen Sitindaon menuding bahwa ada deal yang dilakukan presiden Jokowi di istana terkait majunya Gibran di akun media sosial miliknya.

Diapun meminta Jokowi dan para elite politik PDI Perjuangan memberikan klarifikasinya.

Menanggapi itu, kata Wanto yang juga menjabat Sektetaris Jenderal Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM), organisasi sayap PDI Perjuangan, “Apa perlu dibuka jejak digital, saat SBY di istana kerap bicara tentang partai Demokrat?,” ujar Wanto sekaligus menimpali komentar elit partai Demokrat, yang bahkan sampai ada yang mencuit jangan gunakan Istana sebagai Posko Pemenangan Pilkada.

Pria yang akrab disapa bung Klutuk ini juga mempertanyakan, mengapa Demokrat harus capek mengurusi dapur PDI Perjuangan sedangkan dapur Demokrat sendiri sedang bermasalah.

Seperti diberitakan bahwa penetapan AHY sebagai Ketua umum Demokrat secara aklamasi digugat pendirinya, salah satu pendirinya adalah Subur Sembiring, Hengki Luntungan, Murtada Sinuraya yang tergabung dalam FKPD (Forum KOmunikasi Pendiri dan deklarator) partai Demokrat.

Aktivis 98 ini mengatakan sebaiknya Partai Demokrat menyelesaikan urusan internalnya.

“Jadi lebih baik Demokrat urus saja AHY. Fokus dulu di internalnya dan mempersiapkan kadernya untuk bertarung di pilkada 2020 daripara meramaikan soal penetapan Gibran,” imbuhnya

Wanto juga menegaskan bahwa Demokrat seharusnya sadar dan lebih mengaca diri untuk tidak banyak berkomentar sinis tentang penetapan Gibran, sebagai calon walikota Solo dan akan membentuk dinasti politik.

Seperti diketahui bahwa Demokrat tidak memiliki kursi di DPRD Surakarta.

Menurutnya, apa yang dilontarkan ke media dan medsos ibarat menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

“Seandainya pak Jokowi membuka pintu koalisi kepada Demokrat, bisa ditebak SBY akan segera menyodorkan nama AHY masuk ke kabinet. Jadi meributkan dan mengaitkan dinasti politik ibarat menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” jelasnya.

Bagi PDI Perjuangan, pengumuman 45 calon kepala daerah oleh Megawati Soekarno putri adalah mandat yang harus dilaksanakan dengan kerja keras demi memenangkan suara rakyat.

Semua kader PDI Perjuangan dan para calon pemimpin daerah yang diusung PDI Perjuangan harus turun ke bawah bergerak bersama dalam satu rampak barisan.

“Seharusnya ada kesadaran bahwa cuitan di medsos itu tidak akan memenangkan suara rakyat. Tapi menangis dan tertawa bersama rakyatlah yang membuat kita bahagia,” tutup mantan aktivis 98 UIN Syarif Hidayatullah ini. (BDU/RED)