Jubir MUSA : Jangan Rusak Demokrasi Dengan Isu SARA

Juru Bicara pasangan calon Muhamad-Saraswati (MUSA), Dodi Prasetya Azhari | Photo : Istimewa
Juru Bicara pasangan calon Muhamad-Saraswati (MUSA), Dodi Prasetya Azhari | Photo : Istimewa

Tangerangraya.net, Tangsel – Ramainya pemberitaan adanya oknum Lurah yang menyebarkan isu Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) menjelang pelaksanaan Pilkada Tangsel 2020, membuat Juru Bicara pasangan calon Muhamad-Saraswati (MUSA), Dodi Prasetya Azhari, angkat bicara.

Dodi mengatakan, Lurah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) seharusnya bertindak netral. Menurutnya ASN tidak boleh berpihak terhadap salah satu pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota tertentu, apalagi sampai memancing isu SARA karena itu merupakan pelanggaran yang harus diberikan sanksi yang tegas.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh oknum Lurah tersebut pasti ada yang menggerakkan, dan untuk membuktikannya Bawaslu harus mampu melakukan investigasi lebih dalam lagi.

“Saya menduga bahwa ada pihak yang menggerakkannya sehingga Lurah tersebut berani melakukan hal tersebut. Jelas, penggeraknya hanya berpikir yang penting jagoannya menang, mungkin enggak peduli nilai etika, moral apalagi demokrasi, dan bawaslu harus aktif lakukan investigasi lebih dalam soal ini” ujar Dodi yang juga merupakan Politisi dari Partai Perindo, Saat di mintai tanggapannya melalui seluler pribadinya, Selasa (06/10/2020).

Di tambahkannya, Demokrasi harus ditunjukkan dengan membangun watak pemerintahan di tingkat manapun, dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan membangun rasa persaudaraan. Serta menjaga kualitas demokrasi Indonesia itu sangatlah penting karena hal tersebut akan menunjukkan tingkat kualitas kita sebagai Bangsa.

“Persoalannya dengan identitas kebudayaan kita sebagai orang timur, persoalan terkait dengan tradisi bahwa berpolitik itu haruslah membangun peradaban, hal itu tidak boleh hilang hanya gara-gara persoalan kekuasaan itu, Jangan haus kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Ini sangat berbahaya, karena ini menentukan kualitas kita sebagai bangsa” tegasnya

“Kalau kita mundur, menjadikan demokrasi hanya berorientasi kepada kekuasaan, lalu hilanglah peradaban politik kita sebagai bangsa yang besar, maka tidak ada gunanya demokrasi, dan mereka yang melakukan hal itu berarti anti demokrasi.” tutup Dodi.

Penulis : BDU | RED