Opini  

Politik dan Intimidasi

Abi Rekso Panggalih
Abi Rekso Panggalih

POLITIK sebagaimana habitatnya, semua adalah tentang cara mengelola kekuasaan. Pada waktu yang bersamaan, kekuasaan itu sendiri tumbuh dan berkembang sesuai orientasi kepemimpinannya. 

Menteri Erick Thohir telah menjadi objek dari target perebutan kekuasaan yang mengatasnamakan Presiden Jokowi. Apa daya, seorang tokoh muda yang tidak tumbuh besar dalam lingkungan politik harus bertahan diri ditengah buasnya belantara politik. 

Padahal sebagai seorang profesional, Menteri Erick Thohir mendedikasikan waktu, pikiran dan pengalamannya dalam rangka memperbaiki BUMN kita. Lebih lagi baru saja memulai pandemi langsung melanda dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Lagi-lagi Menteri Erick Thohir menjadi bulan-bulanan amarah bagi mereka yang terus membenci. 

Kita juga harus jujur pada diri dan situasi, bahwa di tengah pandemi memperbaiki ekonomi bukan hal yang mudah. Kerja-kerja nyata Menteri Erick Thohir, mendapatkan banyak apresiasi. Meski, tetap ada yang yang menyerang dengan prasangka benci. 

Mulai dari penataan kembali perusahaan menuju holding dan IPO. Restrukturisasi keuangan BUMN agar keluar dari belitan utang masa lalu. Optimalisasi generasi muda dalam BUMN yang dipersiapkan sebagai pemimpin masa depan.

Yang baru-baru ini adalah permintaan Presiden Jokowi kepada Menteri Erick Thohir terkait pemulihan ekonomi dan pandemi. Tentu, mengerjakan tugas segenting itu bukan seperti pertunjukan badut di atas panggung. Yang menghibur semua orang dang berakhir pada decak kagum semua penonton.

Justru hal itu berbanding terbalik, khusus kepada Menteri Erick Thohir. Semakin kinerja itu sukses dan berdampak kepada ekonomi dan pandemi, semakin keras dentuman intimidasi terhadap dirinya. Bukan hanya intimidasi secara politik, langkah-langkah insinuasi membenci Erick Thohir juga terjadi. Karena, lagi-lagi Erick Thohir dihujat tidak bisa menyenangkan semua pihak.

Tentu rakyat akal sehat tidaklah buta, apalagi tuli. Sejauh semua kebijakan yang diambil oleh Menteri Erick Thohir berdampak pada perbaikan situasi. Tidak ada cara selain membela akal sehat secara bermartabat. 

Jika semua kinerja pemulihan situasi harus menyesuaikan dengan segala agenda kepentingan jabatan yang ada, boleh jadi pemulihan situasi krisis dan pandemi bukan yang utama. Kita perlu berbangga hati seorang Menteri BUMN yang berjalan pada koridor kepentingan bangsa. 

Intimidasi politik boleh jadi sebagai alat negosiasi untuk mendapatkan dan menikmati fasilitas jabatan di lingkungan BUMN. Seringkali intimidasi juga cara untuk membangun kebencian pada subjek atau kelembagaan yang dikehendaki oleh intimidator. 

Dalam politik segala pretensi yang berujung pada sentimental memang sering terjadi. Namun kerja-kerja nyata dan tulus yang bisa meluluhkan itu semua. 

Kebencian tidak boleh dibalas kebencian juga. Kebencian juga tidak perlu terlalu jauh dipertimbangkan. Yang pasti, balaslah semua tuduhan, kebencian bahkan hujatan dengan ketulusan dan akal pikiran. Karena membela akal sehat harus jauh dari niat dan pikiran sesat.

Karena begitulah Presiden Jokowi mengajarkan kita, tentang arti memimpin. Pemimpin pasti dicaci!

Salam Rakyat Akal Sehat!!

Abi Rekso Panggalih
Penyuluh Rakyat Akal Sehat