Kejari Tetapkan Tersangka Kasus Dana Hibah, Bendahara KONI Tangsel Pakai Rompi Pink

TANGERANGRAYA.NET, Tangsel Kejaksaan Negeri kota Tangerang Selatan (Tangsel) telah menetapkan tersangka SHR kasus korupsi dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia, diketahui SHR sebagai Bendahara Struktur KONI.

Korupsi adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal.

Demikian disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangerang Selatan Aliansyah menetapkan SHR sebagai tersangka hibah Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) sebesar Rp.1,1 miliar, pada anggaran kegiatan tahun 2019 lalu.

“Sudah tiga bulan (hingga ditetapkan tersangka). Soal waktu, kita menunggu kerugian negara, jadi harus lebih berhati-hati. Hari ini kita sudah menetapkan tersangka dengan inisial SHR,” kata Kepala Kejari Tangsel Aliansyah saat menggelar jumpa pers, Jumat 4 Mei 2021.

“Mulai hari ini sudah melakukan penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Kota Serang selama 20 hari dihitung mulai hari ini. Ini semua didasarkan pada surat perintah penyidikan yang saya tandatangani pada 31 Maret dan 5 Mei. Mohon dukungan semua dalam memberantas tindak korupsi,” tambahnya.

Aliansyah menerangkan, berdasarkan penyidikan, kerugian negara mencapai Rp.1,1 miliar tersebut, didapati penyimpangan atau pelanggaran pada perjalanan dinas keluar daerah Jawa Barat.

“Nanti akan ada pemeriksaan lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan (ada tambahan tersangka) sepanjang ada bukti-bukti akurat. Kami sudah mendapatkan laporan dari perhitungan kerugian negara sebesar 1M lebih. Itu (Rp.1,1 miliar) didapat dari perjalanan-perjalanan dinas keluar Jawa Barat,” tegas Aliansyah.

Sementara itu, dilokasi yang sama, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Ate Quesyini Ilyas menerangkan pihaknya masih melakukan pengembangan atas kasus dugaan korupsi hibah KONI Tangsel.

“Ya nanti berkembanglah di penyidikan, di persidangan. Tapi ini sudah ada laporan dari Inspektorat Kota Tangsel. Pertanggungjawaban ini, diduga manipulatif. Kegiatan yang menggunakan dana hibah, nanti yah berkembang karena itu masih berproses. Ada dokumen-dokumen dan bukti lainnya, secepatnya akan langsung ke kantor pengadilan sembari menunggu alat bukti.,” tutur Kasi Pidsus Ate Quesyini Ilyas. (BJS/RED)