TUTUP IKLAN
Politik

Ganjar-Mahfud dan AMIN Bangun Komunikasi, PKS: Hanya untuk Awasi Kecurangan Saja

30
×

Ganjar-Mahfud dan AMIN Bangun Komunikasi, PKS: Hanya untuk Awasi Kecurangan Saja

Sebarkan artikel ini

Politik – Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menyatakan terkait informasi soal konsolidasi Paslon Amin dengan Paslon nomor urut 03 Ganjar-Mahmud, pihaknya menyatakan telah terbangun komunikasi.

Komunikasi yang dimaksud Mardani adalah guna mengawasi bersama soal adanya dugaan-dugaan kecurangan.

BERITA INI DI SUPPORT OLEH

“Komunikasi ada, komunikasi khususnya untuk menjaga agar Pemilu langsung umum bebas dan rahasi (LUBER), serta Jujur dan Adil (Jurdil),” ujar Mardani, Selasa, (23/1/2024).

Karena kita melihat ada indikasi penggunaan aparat, dan lain-lain. Karena ada kesamaan pandangan bahwa ada peluang pelanggaran netralitas, aparat,” tambahnya.

Perihal soal ramainya prediksi salah seorang pengamat luar negeri, yang menyatakan Prabowo Subianto sudah menjadi Presiden.

Anggota Komisi II DPR RI itu menyampaikan, pihaknya tetap tenang sembari terus melakukan sosialisasi pasangan calon (Paslon) Presiden dan Wakil Presiden Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Amin).

Ya wajar aja kalau ada yang komen. Kan ada yang minta satu putaran juga, kalo kita tetep berusaha Amin masuk putaran dua. Di putaran dua menang, jadi terhadap berita itu kita cool aj, tenang aja,” tegas Mardani.

Diberitakan sebelumnya ramai di berbagai linimassa, Guru Besar Ilmu Politik Australian National University (ANU), Marcus Mietzner, menilai pasangan calon (paslon) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka akan memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Hal tersebut, berbekal hasil survei Indikator Politik Indonesia periode 30 Desember 2023-6 Januari 2024, setidaknya hipotesis tersebut berdasarkan beberapa hal.

Pertama, ungkapnya, selisih elektabilitas Prabowo-Gibran dengan kedua pesaingnya, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD, terpaut sekitar 20%.

Angka tersebut tergolong besar, apalagi jika merujuk dengan pilpres di negara lain, termasuk yang sebelumnya terjadi di Indonesia.

Saya rasa, itu harus dibaca dalam konteks komparatif. Kalau kita lihat pemilu-pemilu di seluruh dunia, kalau ada konstelasi angka seperti itu, rata-rata komentator akan bilang, ‘Oh, ini sudah selesai’,” ucapnya.

Laporan: STW